Pandara Prima - Ada berita menghebohkan nih yang lagi viral banget di jagat maya dan bikin gempar warga plus-minus dunia pariwisata Bali. Buat Anda yang hobi banget nongkrong di media sosial, pasti udah nggak asing lagi dong sama hebohnya proyek lift kaca hits di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Klungkung?
Sayangnya, alih-alih bikin wisatawan makin takjub, proyek senilai Rp 200 miliar ini justru berujung tragis karena kena smackdown langsung sama Gubernur Bali, Wayan Koster! Gimana nggak geram? Proyek yang dipegang oleh PT Indonesia Kaishi Tourism Property Investment Development Group (PT Bina Nusa Property) ini ternyata main terabas aturan alias cincai tanpa izin yang bener.
Tanpa basa-basi lagi, Koster langsung kasih titah tegas supaya seluruh bangunan lift kaca itu dibongkar mandiri dalam waktu paling lama 6 bulan ke depan! Wah, bener-bener sad ending banget kan buat investornya?
Lewat konferensi pers yang diadain di Rumah Jabatan Gubernur Bali di Denpasar pada Minggu (23/11/2025), Koster ngasih instruksi telak buat ngehentiin total seluruh aktivitas pembangunan proyek lift kaca maut tersebut. Nggak cuma sekadar nyuruh berhenti, investor juga dikasih deadline super ketat selama enam bulan buat ngeratain seluruh bangunan kontroversial itu dari tebing ikonik Pantai Kelingking.
Pemprov Bali nggak bakal main-main. Bakal ada kiriman surat peringatan sebanyak tiga kali berturut-turut buat ngecek keseriusan pihak investor. Kalau nyampe tenggat waktu itu terlewati tapi bangunannya masih mangkrak berdiri, dengan terpaksa pemerintah bakal turun tangan langsung ngambil alih pembongkarannya bareng Pemkab Klungkung. Serem banget kan kalau udah dibongkar paksa?
Eitss, nggak berhenti sampe di situ aja lho! Setelah bangunan diratakan dengan tanah, pihak pengembang juga diwajibkan buat ngelakuin pemulihan fungsi dan kondisi tata ruang seperti sedia kala dalam jangka waktu tiga bulan setelah bangunan diratakan. Jadi, alam Bali yang tadinya asri dan natural bener-bener harus dikembalikan kayak sediakala tanpa ada sisa-sisa reruntuhan proyek yang merusak pemandangan.
Pasti Anda penasaran kan, kenapa sih proyek sultan senilai ratusan miliar rupiah ini bisa dibabat habis tanpa ampun? Usut punya usut, Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali bareng Gubernur Koster nemuin segudang pelanggaran fatal yang bikin bulu kuduk merinding. Nih, simak poin-poin pelanggaran beratnya:
1. Pelanggaran Tata Ruang (Perda Bali No. 3 Tahun 2020)
Pembangunan lift kaca nekat didirikan di kawasan sempadan jurang tanpa mengantongi rekomendasi resmi dari Gubernur dan tanpa izin pemanfaatan ruang laut (KKPRL) dari Kementerian KKP. Bahkan, sebagian pondokannya nyelonong ke perairan pesisir!
2. Pelanggaran Lingkungan Hidup (PP No. 5 Tahun 2021)
Investor ternyata zonk abis, sis! Nggak punya izin PMA yang sah, cuma ngandelin rekomendasi UKL-UPL abal-abal doang dari DLHP Klungkung.
3. Pelanggaran Perizinan Bangunan
Ada ketidaksesuaian telak antara rencana tata ruang dengan izin aslinya. Bayangin aja, izin yang dikantongi ternyata cuma buat bikin loket tiket doang, tapi praktiknya malah nyelonong bangun jembatan penghubung raksasa dan lift kaca setinggi 182 meter!
4. Pelanggaran Tata Ruang Laut (UU No. 27 Tahun 2007)
Fondasi beton raksasa ditanam seenaknya di zona perikanan tradisional yang notabene mutlak dilarang keras buat bangunan komersial pariwisata.
5. Pelanggaran Wisata Budaya (Perda Bali No. 5 Tahun 2020)
Proyek ini dinilai secara brutal merusak orisinalitas dan keaslian kawasan suci serta alam Pantai Kelingking yang selama ini jadi magnet utama turis mancanegara. Pelanggaran yang satu ini bahkan punya ancaman sanksi pidana lho!
Segala biaya fantastis yang timbul dari proses pembongkaran lift kaca ini mutlak seratus persen jadi tanggung jawab penuh pihak investor, alias nggak boleh pakai uang negara sepeser pun!
Di sisi lain, Bupati Klungkung I Made Satria dan Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra juga angkat bicara soal kemelut ini. Walaupun Pemkab Klungkung menyerahkan penuh kewenangan sanksi kepada Pemprov Bali, mereka bakal memperketat pengawasan melekat ke depannya supaya kejadian serupa nggak keulang lagi.
Pihak Pemkab juga ngasih wanti-wanti ke seluruh investor lain yang mau melokal di Bali. Pesannya jelas banget: "Silakan berinvestasi, tapi tolong taati hukum, urus izinnya dari hulu ke hilir dengan bener, dan jangan pernah coba-coba ngerusak alam Bali!" Pemerintah desa juga didorong buat lebih jeli dan sering-sering turun lapangan mengawasi wilayahnya masing-masing, karena mencegah jauh lebih baik daripada nyesel belakangan.
Buat Anda yang pengen tau info terupdate seputar dunia properti, hukum tata ruang, dan tips investasi cerdas anti boncos, yuk langsung mampir dan baca artikel menarik lainnya di website kami melalui Pandara Prima.